+62 852-5973-8752 info@pedulibencana.com

Yang Disaksikan Mata Dan Yang Di Berita

  • Home / Cerita Santri / Yang Disaksikan Mata…
Yang Disaksikan Mata Dan Yang Di Berita

Yang Disaksikan Mata Dan Yang Di Berita

Biarkan pena ini menangis di antara puing rumah yang meringis. Puing-puing yang telah ditinggal penghuni dalam histeris.

Tenda pengungsi berbaris. Sementara logistik mereka hampir habis. Namun mereka berusaha tak mengemis. Menjaga semangat hidup tetap optimis. Mengimani takdir yang tertulis.

Tadi malam (1/11), saya kembali ke Posko Sesela, Lobar setelah memutari Pulau Lombok. Jauh ke utara, melipir ke timur, hingga ke kampung Arab di Kelurahan Pancor, Kecamatan Selong, Kabupaten Lombok Timur (Lotim).

Salat magrib dan isya di Masjid Jami Subulussalam. Tempat di mana daurah asatidz kalau ke Lombok. Di antaranya Ustad Abdurahman Lombok, ustad Usamah Mahri, ustad Muhammad bin Umar As Sewed, dan lainnya.

Baca Juga: Upaya Kecil Untuk Saudara Kami di Daerah Terpencil

Kampung Arab

Ada kebiasaan menarik di masjid tersebut. Yaitu, setiap Senin dan Kamis disediakan makan malam usai salat magrib, untuk berbuka puasa sunnah. Suasana tampak hangat. Klan Bafadhal mendominasi di kawasan ini. Ketika mereka tahu saya dari Cirebon, mereka sumringah. Terlebih saat saya sebut beberapa kawan klan Bafadhal di Kota Udang. Ternyata mereka kenal. Rupanya masih kerabat.

Masyaallah..

Senang bertemu saudara kaum muslimin. Seolah sudah kenal lama. Padahal ketemu baru saja. Tidak ada yang menyatukan selain iman dan takwa.

Mulai Bermalam di Posko

Relawan santri sejak malam Jum’at (2/11), telah menempati pos masing-masing: Panyambuan (KLU), Betumping (KLU), dan Sandongan (Lotim). Sederet tugas dan kegiatan menanti. Mulai menyiapkan sarana fisik seperti MCK, membersihkan reruntuhan rumah warga, sampai melanjutkan hubungan silaturahmi yang sudah dirintis tim Oktober.

Baca Juga: Siraman Rohani: Tetap Tegar di atas Iman Ketika Musibah Melanda

Pusat Gempa di Lokasi Wisata

Jalur kami dari Posko Sesela menuju ketiga pos di atas satu arah dengan jalan menuju objek wisata Pantai Senggigi dan Pulau Gili Trawangan. Tampak rumah penduduk banyak hancur. Ada yang rata dengan tanah. Ada yang retak parah di sana-sini. Rumah yang menunggu roboh. Tenda pengungsian berserakan.

Kondisi ini kontras dengan pemandangan pantai, baris pohon kelapa yang melambai, dan laut biru di sepanjang perjalanan.

Menurut kawan yang mengantar kami, kerusakan akibat gempa lalu, paling parah di Lombok Utara dan Timur. Daerah tersebut merupakan titik-titik lokasi bagian dari kawasan favorit wisatawan.

“Ya, kita semua tahu, kalau banyak turis di lokasi wisata terkadang beriring dengan kemaksiatan. Dulu di sini (jalur menuju Senggigi), warganya makmur-makmur ditopang ekonomi kepariwisataan. Nah, dengan gempa yang terjadi mereka ditegur. Semoga mau kembali kepada Allah (untuk bertobat),” paparnya.

Sampai di Posko Panyambuan, yang tak jauh dari pantai, kondisi memprihatinkan terlihat jelas. Bangunan rumah hancur. Tenda terpal pengungsi mulai layu, seolah enggan tegak, menambah pilu warga yang menempatinya.

MCK kreasi relawan santri menyatu dengan pemukiman. Diharapkan bisa membantu masyarakat dalam urusan MCK. Sementara puing rumah warga, menunggu untuk dibersihkan.

Jazakumullahu khairan atas doa dan dukungan asatidzah serta saudara sekalian.

Ikuti update informasi dan programnya melalui:

Channel Telegram: https://t.me/pedulibencana
Official Website: https://pedulibencana.com
Twitter: @peduli_bencana
Email:info@pedulibencana.com

Contact Person:
▪+62 878-6426-2106 (Wil. Lombok)
▪+62 857-5736-6967 (Wil. Palu)
▪+62 812-2733-7626 (Wil. Palu)
▪+62 852-5973-8752 (Umum)

#pedulilombok
#pedulipalu

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: