+62 852-5973-8752 info@pedulibencana.com

KISAH NYATA YANG LUAR BIASA

  • Home / Cerita Santri / KISAH NYATA YANG…
KISAH NYATA YANG LUAR BIASA

KISAH NYATA YANG LUAR BIASA

“Om, ini Al Qur’an, keluarkan dulu, ini lebih penting”, ucap Ria (18), seorang remaja yang menjadi korban gempa di Palu Jum’at (28/9) silam.

Di tengah tindihan beton di bagian pinggangnya dan jepitan ranjang besi di kakinya, Ria melanjutkan dengan tanya penuh harap, “Oom, saya masih bisa selamat?.. Oom jangan kasih tinggal saya Oom..”!

Itulah kata-kata yang keluar darinya, hingga sekarang masih saja terngiang di telinga.

“Ikhtiyar Dek..” jawabku menenangkan. “Muraj’ah hafalan saja dulu, insyaallah bisa selamat. Pagi nanti ada bantuan gerinda (alat potong) datang. Saat ini makan dan minum yang saya kasih saja dulu untuk bertahan, karena kita sudah coba pakah dongkrak, obeng dan gergaji besi tapi belum bisa kasih keluar Ria.” Jawabku coba menenangkan.

Ria adalah seorang yang Saya kenal sebagai remaja yang suka membaca Al Qur’an. Makanya tak heran jika dia telah menyelesaikan hafalan Al Qur’annya.

Ketika gempa di waktu maghrib terjadi, Ria bersama dengan kelima teman-temannya yang bernama Debi, Lala, Inayah, Firza dan Lita berada di bangunan Gedung Banua Qur’an. Bangunan yang berlantai tiga itu seketika runtuh. Ria bersama teman-temannya terjebak di dalam bangunan bersama reruntuhan puing-puing.

Saya bersama tim relawan berusaha mencari korban yang mungkin bisa dievakuasi. Malam itu adalah malam pertama setelah gempa terjadi, akses ke tempat Ria cukup sulit. Kami harus sampai tiarap untuk bisa mencapainya.

Ketika kami bertemu dengan Ria, dia masih ingat letak teman-temannya berada. Ria menyebutkan nama-nama mereka. “Di depan saya ada Dea (yang sebelumnya sudah kami selamatkan di awal), depan Dea ada Debi dan Lala (sudah wafat), di belakang saya Inayah (sudah wafat), samping kiri masih ada Firza dan Lita (yang masih bernyawa tapi belum bisa keluar karena tangan Firza terjepit reruntuhan dan kemungkinan sudah remuk)”, terangnya.

Episode yang membuat saya merinding adalah ketika mulai masuk jam tiga pagi, semua alarm berbunyi di tengah reruntuhan saat saya masih menemani Ria di dalam. Walau beberapa kali gempa susulan masih saja terjadi, alarm saling menyahut pertanda saat waktu shalat di sepertiga malam dilakukan. Belum lagi lantunan ayat-ayat suci Al Qur’an dari ketiga remaja putri yang masih bernyawa saat itu indah terdengar (Ria, Firza, dan Lita).

Alhamdulillah Saya bersyukur ketika Ria sudah bisa dievakuasi keluar di hari Sabtu sore. Namun sayang, pukul sembilan malam, saat Ria sudah di bawa ke RS Undata, ternyata nyawanya tak bisa terselamatkan. Dia pun meninggal beserta 6 teman lainnya, innalilahi wa inna ilaihi raji’un.

Semoga mereka diampuni dosa-dosanya dan mendapat rahmat Allah di akhirat kelak. Amiin.

*Tulisan ini berdasar kesaksian salah seorang relawan gempa dan tsunami di Palu, tanggal 24 Oktober 2018.

🌏 Ikuti update informasi dan programnya melalui:

✅ Channel Telegram:
https://t.me/pedulibencana

✅ Official Website:

Website Resmi Peduli Bencana

✅ Twitter:
(@peduli_bencana): https://twitter.com/peduli_bencana

✅ Email:
info@pedulibencana.com

✅ Contact Person:
▪+62 878-6426-2106 (Wil. Lombok)
▪+62 812-4147-7594 (Wil. Palu)
▪+62 852-5973-8752 (Umum)

#pedulilombok
#pedulipalu

Leave a Reply

E-posta hesabınız yayımlanmayacak. Gerekli alanlar * ile işaretlenmişlerdir

%d blogcu bunu beğendi: