+62 852-5973-8752 info@pedulibencana.com

Terjaga Karena Derita Mereka

  • Home / Medis / Terjaga Karena Derita…
Terjaga Karena Derita Mereka

Terjaga Karena Derita Mereka

Hari ini anakku demam karena pagi tadi dia diimunisasi. Aku sadar bahwa demam itu sebagai reaksi alami terhadap zat asing yang masuk ke tubuhnya.

Ya, kita semua ingin selalu sehat, ingin selalu segar dan bugar. Begitupun dengan anak-anak kita, orang tua mana yang menginginkan anaknya demam dan panas? Terlebih jika anaknya masih bayi dan tak selamanya kasih sayang orangtua itu diwujudkan dengan cara dibiarkan saja padahal ada bahaya yang mengancamnya.

Imunisasi mungkin berefek tidak mengenakan, panas dan demam itu mesti, walau terkadang terjadinya ada jeda di beberapa waktu ke depannya.

Sudah menjadi suatu kemestian, jika satu bagian tubuh mengalami suatu penyakit, maka bagian tubuh lainnya akan ikut bereaksi. Badan menggigil, mata menangis, mulut merintih. Itu semua pertanda bahwa tubuh itu pada asalnya sehat. Berbeda dengan tubuh yang sakit, apalagi yang sudah pada taraf mati rasa. Jika sudah mati rasa, maka bisa jadi jika ada satu bagian tubuhnya yang sakit dan mengeluarkan darah, ternyata dia tidak merasa atau tidak menyadarinya.

Dari kejadian di atas, apakah kita sebagai orang tua yang melakukan imunisasi berarti telah melakukan suatu bentuk kezhaliman? Tentu tidak. Justru yang ada itu adalah bentuk kasih sayang kita kepada anak tercinta.

Yang zhalim adalah ketika kita memberikan bayi kita dengan sesuatu yang belum pantas untuk diberikan, semisal memberikan minuman jenis sirup kepada seorang bayi yang masih berusia dua bulan. Tentu pencernaannya akan rusak, karena ususnya dan lambungnya belum kuat untuk mencerna, walaupun mungkin sang bayi tetap akan menelan dan suka sirup tersebut karena sesungguhnya dia belum tahu apa yang terbaik buat dirinya.

Oleh karenanya, imunisasi yang menyebabkan demam dan panas pada seorang anak, sejatinya adalah membuat perkara yang nanti akan dia perlukan dirinya di saat nanti. Yakni ketika dewasanya -dengan izin Allah-dia bisa diprediksikan kebal tubuhnya terhadap suatu penyakit.

Sabarlah nak, demam ini baik untukmu.

Panas ini bagus untukmu, yang engkau butuhkan hanyalah sabar, dan berbaik sangka pada kami sebagai orangtuamu. Kami tidak akan menyia-nyiakanmu.

Demikianlah kami sebagai orang tua, sayangnya kita terhadap anak-anak, hanyalah satu bagian dari rahmat yang diturunkan Allah di dunia ini untuk seluruh makhluk-Nya. Sedangkan sisanya, Allah simpan untuk makhluknya di akhirat kelak.

Wahai kaum muslimin, ketika tertimpa musibah, selayaknyalah kita itu bagai satu jasad, yang bereaksi ketika sebagian saudaranya terhimpit kesusahan. Tentunya reaksi yang diberikan adalah sesuai dengan kemampuan yang kita miliki.

Hendaknya curigailah diri-diri ini, ketika tak tergerak melihat saudaranya yang tertimpa bencana, bahkan walau hanya mengirim do’a. Jika demikian, itu pertanda iman kita sedang sakit.

Wahai saudaraku, mungkin bisa dikatakan bahwa musibah itu bagaikan imunisasi. Sakit dan perih. Namun yakinlah, semua iu adalah bentuk lain dari kasih sayang Allah ta’ala pada kita.

Entah apa jadinya jika Allah ta’ala selalu menuruti segala keinginan kita? Mungkin kita akan semakin lalai, semakin melampaui batas, dan berakhir dengan penderitaan yang tiada akhir di akhirat kelak.

Wahai kaum muslimin, mari kita bersama ringankan beban saudara kita yang sedang dilanda musibah. Berbuatlah dengan apa yang bisa kita mampu, karena kaum muslimin adalah satu jasad.

Sadarlah, dengan bencana dan musibah ini, sejatinya Allah ta’ala hendak menginginkan kita untuk kembali pada-Nya, merasa butuh pada-Nya dan menghilangkan sikap sombong serta egois kita terhadap sesama.

Dalam musibah dan bencana inilah kepekaan kita di uji, dalam musibah dan bencana inilah keimanan kita di uji.

Tinggal kita bertanya pada diri kita sendiri, apakah kita telah merasa dengan apa yang mereka rasakan sekarang? Jika ya, maka bersyukurlah, pertanda iman kita masih ada.

Lanjutkan dengan berbuat apa saja yang kita bisa.

Jika tidak, segeralah kembali pada Allah, karena kerasnya hati terjadi dengan sebab banyaknya maksiat yang menutupi hati, hingga hati itu menjadi keras membatu.

Ikuti update informasi dan programnya melalui:

Channel Telegram: https://t.me/pedulibencana
Official Website: https://pedulibencana.com
Twitter: @peduli_bencana
Email:info@pedulibencana.com

Contact Person:
▪+62 878-6426-2106 (Wil. Lombok)
▪+62 857-5736-6967 (Wil. Palu)
▪+62 812-2733-7626 (Wil. Palu)
▪+62 852-5973-8752 (Umum)

#pedulilombok
#pedulipalu

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: