+62 852-5973-8752 info@pedulibencana.com

Menahan Luapan Air Mata Saat Bertemu Dasep

  • Home / Cerita Santri / Menahan Luapan Air…
Menahan Luapan Air Mata Saat Bertemu Dasep

Menahan Luapan Air Mata Saat Bertemu Dasep

Masih ingat Dasep?Ayah Azrul (3) dan Kayla, 20 hari, dua balita korban terjangan tsunami Selat Sunda di Desa Sumber Jaya, Kecamatan Sumur. Lokasi terparah bencana tsunami, 22 Desember lalu.

Saat Tim Peduli Bencana bergerak ke Sumur, Selasa pagi (1/1), Dasep datang ke tempat TPB singgah di ruang belajar PAUD Desa Cigeulis.

Air mata Dasep tak terbendung. Suaranya serak. Sambil sesenggukan, dia berkata: “Pak ustad…Pak ustad…Dasep sabar. Ayeuna Azrul jeung Kayla tos ta aya deui. Duaken Dasep ameh kuat, tiasa caket sareng bapak-bapak ustad (Pak ustad.. Pak ustad, Dasep sabar. Sekarang Azrul dan Kayla sudah tidak ada lagi. Doakan agar Dasep kuat, bisa dekat dengan bapak-bapak ustad),” ucapnya coba berbagi kesedihan dengan TPB.

Dasep makin terisak ketika mengingat bagaimana kejadian tsunami meluluhlantakan rumahnya dan merenggut Azrul serta Kayla.

Tsunami Menggulung dari Depan dan Belakang Rumah

Lelaki yang berprofesi sebagai montir itu mengungkapkan, saat tsunami datang sedang tiduran di rumah. Bersama istrinya Iroh, Azrul dan Kayla.

Malam Ahad (22/12), Dasep mengaku awalnya tak mendengar ada keributan yang mencurigakan. Di detik-detik tsunami menerjang. “Tiba-tiba istri saya mendengar hiruk-pikuk kendaraan di luar rumah. Dia ingin tahu dan membuka pintu. Saat itulah gelombang tsunami menghantam rumah kami. Menggulung keluarga kecil saya, dari depan dan belakang rumah,” tuturnya dengan sorot mata sendu.

Berusaha Tabah dan Sabar

Dasep berusaha tabah dan sabar. Namun dari sisi kejiwaan terlihat dia terguncang. Tiba-tiba mudah menangis. Trauma masih melekat erat di sanubari.

Terlebih saat kami tiba di Sumur. Kediaman Dasep yang menghadap laut menyisakan lantai saja. Puing-puing berserakan.

Dia menunjukkan posisi terakhir bersama dua anaknya, di ruang tengah keluarga. “Ini saya tiduran di sini, Azrul di sini, Kayla di sini,” katanya berkaca-kaca.

Tiba-tiba Dasep melihat bantal berwarna biru di antara puing rumah. “Ini bantal Azrul.. Inu bantal Azrul.. Ya Allah, Dasep sabar..” ucapnya setengah histeris.

Kami yang mendengar di lokasi, menahan luapan duka cita yang mendalam di dada. Sebagian anggota TPB bahkan ada yang tidak kuat menahan gejolak kesedihan hingga ikut menitikkan air mata.

Allah maha kuasa atas kehendak-Nya. Anggota TPB berusaha menghibur Dasep agar terus bersabar. “Allah pemilik Azrul dan Kayla yang sesungguhnya, kini mengambilnya kembali. Kita harus ikhlas dan merelakan,” nasihat salah seorang anggota TPB.

 

Ikuti update informasi dan programnya melalui:

Channel Telegram: https://t.me/pedulibencana
Official Website: https://pedulibencana.com
Twitter: @peduli_bencana
Email:info@pedulibencana.com

Contact Person:
▪️+62 878-6426-2106 (Wil. Lombok)
▪️+62 812-4147-7594 (Wil. Palu)
▪️+62 852-5973-8752 (Umum)

#pedulilombok
#pedulipalu

Leave a Reply

Deine E-Mail-Adresse wird nicht veröffentlicht. Erforderliche Felder sind mit * markiert.

%d Bloggern gefällt das: